Tujuan praktis kultur pucuk adalah untuk perbanyakan vegetatif tanaman, yang mendasari produksi bibit secara komersial. Pucuk awal ini dalam media yang tepat, membentuk pucuk-pucuk baru yang jumlahnya tergantung dari jenis, berkisar dari 4-20 an tunas. Setelah diinduksi pembentukan akar pada pucuk, maka akan tumbuh tanaman yang sempurna yang identik dengan induknya atau merupakan fotokopi dari induknya. Kultur pucuk merupakan dasar dari kegiatan perbanyakan dalam laboratorium komersial. Pertumbuhan pucuk, pada umumnya memerlukan zat pengatur tumbuh dalam media. Sitokinin merupakan bahan yang selalu ditambahkan. Jenis sitokinin yang biasa dipergunakan adalah BAP, 2iP atau kinetin. Dibandingkan jenis sitokinin yang lain, BAP merupakan jenis sitokinin yang lebih umum digunakan dalam in vitro, karena lebih efektif dan stabil. Dalam kultur pucuk sangat umum digunakan konsentrasi sitokinin yang relatif lebih tinggi dari auksin (Bhojwani dan Razdam 1983).

Pelaksanaan teknik kultur jaringan ini berdasarkan teori sel seperti yang
ditemukan oleh scheiden dan schwann, yaitu bahwa sel mempunyai
kemampun autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotesi
adalah kemampuan setiap sel, dari mana saja sel tersebut diambil, apabila
diletakan dalam lingkungan yang sesuai akan dapat tumbuh menjadi tanaman
yang sempurna. (Suryowinoto, 1991).
Aplikasi kultur jaringan pada awalnya ialah untuk propagasi tanaman.
Selanjutnya penggunaan kultur jaringan lebih berkembang lagi yaitu untuk
menghasilkan tanaman yang bebas penyakit, koleksi plasma nutfah,
memperbaiki sifat genetika tanaman, produksi dan ekstaksi zat-zat kimia yang
bermanfaat dari sel – sel yang dikulturkan. (George dan Sherrington, 1984).
Banyak keuntungan yang bisa didapat dari hasil pembiakan secara
vegetatif yaitu dapat dipertahankan sifat genetis sehingga dapat menghasilkan
tanaman yang sama dengan induknya (Astuti dan Soeryowinoto, 1981).
Penggunaan teknik kultur jaringan dimulai oleh Gottlieb Haberlandt
pada tahun 1902 dalam usahanya mengkulturkan sel-sel rambut dari jaringan
mesofil daun tanaman monokotil. Tetapi usahanya gagal karena sel-sel
tersebut tidak mengalami pembelahan, diduga kegagalan itu karena tidak
digunakannya zat pengatur tumbuh yang diperlukan untuk pembelahan sel,
proliferasi dan induksi embrio. Pada tahun 1904, Hannig melakukan
penanaman embrio yang diisolasi dari beberapa tanaman crucifers. Tahun
1922, secara terpisah Knudson dan Robbin masing-masing melakukan usaha
penanaman benih anggrek dan kultur ujung akar. Setelah tahun 1920-an,
penemuan dan perkembangan teknik kultur jaringan terus berlanjut. Berikut
tabel yang menunjukkan sejarah perkembangan bidang kultur jaringan tanaman yang diadaptasi dari berbagai sumber.

Nilam merupakan tanaman penghasil
minyak atsiri yang cukup penting. Pada
tahun 2001 ekspor minyak nilam Indonesia
mencapai 1.174 ton dengan nilai
US$ 16.328 (Direktorat Jenderal Bina
Produksi Perkebunan, 2002), merupakan
penyumbang devisa tertinggi di antara
tanaman atsiri. Selain itu minyak
nilam memiliki daya pestisida sehingga
dapat digunakan sebagai pengusir serangga
(Mardaningsih et al., 1998).